Disiplin kalau ada yang lihat...
Sudah jadi hal yang umum sepertinya kalau disiplin itu butuh diawasi. Misalnya di traficligh ketik lampu merah, masih saja banyak orang yang nyrobot. Beda lagi am jam kerja masih aja yang keluar/bolos di jam-jam kerja. Namun ceritanya lain kalau di traficligh ada polisinya, bila di kantor diawasi bos/kepalanya, semua seakan patuh banget akan peraturan. Sayangnya jumlah aparatur polisi atau bos atau kepala atau apalah sebutan untuk penegak peraturan selalu lebih sedikit dari pada yang tidak jadi bos, coba dibalik bosnya lebih banyak dari bawahannya pasti akan beda ceritanya.Berbicara soal dilihat ataupun diawasi atau apalah namanya, tentu sudah pada tahu bahwa mereka ada karena adanya pelanggaran. Misalkan diindikasikan tidak ada pelanggaran tentu mereka juga tidak tercipta. Lalu siapa yang mengadakan pelanggaran? Pertanyaan tersebut tentu anda bisa jawab sendiri. Karena memang hanya diri sendiri yang membuat pelanggaran. Apabila sudah ditanamkan dalam diri setiap orang untuk disiplin tanpa diawasi apapun alasanya tentunya ketertipan akan tercipta.
Lalu kapan kita harus disiplin tanpa diawasi, kapan kita tidak usah disiplin walaupun tidak diawasi?. Pertanyaan tersebut terasa waw sekali bagi saya. Menurut saya pribadi disiplin itu setiap saat, dimana saja, dengan alasan apa saja. Walaupun prakteknya sulit sangat, namun teori kadang penting untuk diketahui sedangkan prakteknya menyesuaikan.
Nih kalau saya selalu menanyakan pada diri saya sendiri misal, masak kerja di siplin harus diawasi? Masak on time harus diawasi? Masak disiplin untuk kesehatan harus diawasi? masak disiplin untuk beramal harus diawas? masak disiplin untuk rutin perawatan alat atau benda kepemilikan harus diawasi? Masak potong kuku, potong rambut harus diawasi? masak udah lama menjomblo harus diawasi *kalau yang ini tidak termasuk kali ya? Masak sholat harus diawasi? Masak ibadah untuk diri saya sendiri harus diawasi?
Beberapa pertanyaan diatas tentu kalau dihayati bener-bener sudah mewakili maksud dan tujuan tulisan saya, kalau pun toh belum yowes tidak apa-apa. Saya sadar setiap orang punya kadar pemahaman dan kedisiplinan yang berbeda. Intinya bahwa memang disiplin itu harus diawasi, pengawasnya adalah bos.
Kalau setiap pekerjaan ada bosnya tentu repot makanya kita namai saja diri kita sebagai bos. Apapun bentuk keinginan untuk tidak disiplin maka malulah sama bos. Bila tidak malu maka laporkan saja sama sang maha Bos.

No comments:
Post a Comment