Berbagi Itu Indah

Berbagi Itu Indah

Sunday, December 6, 2015

Dampak media social kepada anak-anak



Hai sobat bloger…
Hasil gambar untuk media sosial dan anak-anakLama nian saya tidak nongol mengisi ini blog. Bukan karena saya marah sama ni blog kesayangan, saya hanya bingung mau nulis apa *wkwkwkwkwk. Hari ini saya ingin bahas sedikt mengenai dampak media social kepada anak-anak.
  
Seperti kita tahu, media sosial mulai merebak sejak memasuki abad 21. Media sosial muncul dari Negara-negara maju dari eropa dan sebagian dari asia. Indonesia negri yang kita cintai sementara masih menikmati kemudahannya saja, alias konsumtif *termasuk saya.

Namun beberapa waktu ini, kawula muda Indonesia berhasil membuat media social baru. Penggunanya tentu tidak sebanyak media sosial buatan asing. Saya suka heran sama orang-orang Indonesia. Kita ini lebih seneng menggunakan produk asing dari pada produk sendiri. Mungkin perlu dibuatkan undang-undang bahwa setiap orang wajib membeli minimal 10 produk dalam negri setiap tahunnya. Selain itu juga harus digalakkan kampanye cinta produk dalam negri *cintailah produk-produk Indonesia.

Sekarang kembali ke pembahasan. dampak media sosila kepada anak-anak. Zaman sekarang siapa sih yang tidak punya media social. Emak-emak saja sudah punya. Anak usia sekolah dasar saja sudah punya. Dampak positifnya adalah kita dimudahkan dalam berkomunikasi jarak jauh. Namun negatifnya juga menghawatirkan sekali. Kadang miris sekali saya lihat berita di yang mengabarkan gara-gara facebook seorang remaja di perkosa, atau bahkan dibunuh *ngeri sekali.

Setiap kemajuan pasti akan selalu berdampak pada hal-hal lain. Anak-anak adalah penerima dampak paling besar. Rasa ingin tahu yang besar tidak diimbangi dengan pengawasan keluarga. Mengakibatkan anak-anak tidak terkendali. Insting meniru prilaku orang dewasa juga merupakan pemicunya. Dulu istilah pacaran zaman saya itu semenjak saya usia SMP akhir. Sebelum itu generasi saya tidak berani untuk melakukannya. Namun sekarang sudah bergeser. Anak SD yang menurut saya belum pantas untuk pacaran malah sebaliknya sudah ada beberapa yang mengikrarkan diri mereka sedang pacaran dengan temanya. Diunggah dimedia lagi. Miris sekali memang melihat generasi sekarang.

Peran orang tua, keluarga dan sekolah lagi-lagi perlu dipertegas. Tidak bisa dipungkiri pemerintah lewat KPI juga jangan diam saja. Tontonan yang tidak baik sebaiknya jangan dipertontonkan di jam-jam anak-anak melihat TV. Orang tua zaman sekarang juga terkadang sering memanjakan anak dengan berbagai gadget, membiarkan mereka membuat media sosila yang tentunya bukan untuk usia mereka. Namun saya juga sempat bingung bagaimana cara melarang anak yang punya kaki punya tangan punya fikiran untuk melarang mereka menggunakan media sosilal.

Kata kuncinya tentu pada pengawasan dan pendampingan. Orang tua terutama adalah sosok yang paling besar pengaruhnya tentang ini. Memberikan anak gatget lebih mentereng sepertinya di zaman ini. Orang tua zaman sekarang memeng terkesan memanjakan anak meraka. Mungkin disebabkan tingkat ekonomi warga Indonesia yang mulai meningkat.
Hasil gambar untuk media sosial dan anak-anakSo, pengawasandan control sangat penting. Jangan sampai anak-anak kita adalah salah satu korban media sosial seperti berita di media massa. Batasi penggunaan media masa sesuai usia mereka. Berikat penjelasan yang masuk akal. Dan sibukkan anak-anak kita dengan kegiatan yang positif.

No comments:

Post a Comment