BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Menurut quran surat ar Rum bahwasanya manusia diciptakan kedunia saling bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Itulah salah satu kehebatan kitar suci al Quran yang salah satu keistimewaanya dapat membeberkan kenyataan yang ada, terbukti memang sekarang ini nyatanya kita sebagia manusia diciptakan dengan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, atu berkelompok-kelompok.
Kemudian dari situ timbul lagi beberapa masalah yang muncul, yakni beragamnya keyakinan dari masing-masing manusia, bahkan ada juga yang ternyata tidak beragama sama sekali. Hal ini begitu menyedihkan bagi sebagian kaum yang beragama, maka mulailah timbul beberapa pertanyaan terkait masalah diatas diantaranya apakah sebenarnya hakikat agama dan apakah memang manusia itu diciptakan oleh ALLOH selalu beragama, dan bagaiamana realita tentang adanya manusia yang tidak mempunyai agama, maka kami membuat makalah dengan judul “Fitrah Beragama Pada Manusia”
B. Rumusan masalah
Sesuai dengan pembatasan masalah diatas, maka kami mempunyai suatu rumasan masalah sebagai berikut;:
1. Apakah Pengertian agama dan beragama?
2. Bagaimana Manusia menurut Al Quran?
3. Apakah benar Hakikat manusia adalah beragama
C. Tujuan.
Tujuan dari makalah ini adalah:
1. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah biologi.
2. Agar mahasiswa memperoleh banyak pengetahuan dengan adanya tugas biologi ini
3. Melatih mahasiswa untuk belajar bekerjasama adengan teman sekelompok.
4. Mahasiswa dalam arti ini penulis dapat langsung menimba ilmu dari sumber-sumber dalam pembuatan makalah ini.
D. Manfaat
Makalah ini bisa bermanfaat untuk:
1. Menambah pengetahuan terutama mengenai pembahasan makalah ini
2. Melatih mahasiswa untuk gemar membaca dan mencari sumberpembuatan makalah ini.
3. Mempermudah pembaca dalam menambah pengetahuaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama dan Beragama
agama dalam bahasa arap dinamakan Din, dan kata-kata din dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 92 kali. Menurut arti bahasa (etimologi), din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Dalam pembahasan Al-Qur’an menyebutkan kata din dalam surah Al-Fatihah ayat 4, maliki yawmiddin – “(Dialah) Pemilik (raja) hari pembalasan.“ Demikian pula dalam sebuah hadis, din diertikan sebagai ketaatan. Rasulullah saw bersabda, “ad-dinu nashihah (Agama adalah ketaatan).”
Sedangkan menurut terminologi teologi, din diartikan sebagai sekumpulan keyakinan, hukum dan norma yang akan membawa seseorang kepada kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Berdasarkan hal di atas, din mencakup tiga dimensi, (1) keyakinan (aqidah), (2) hukum (syariat) dan (3) norma (akhlak). Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain saling berkaitan dan tidak boleh dipisahkan antara satu dengan lainnya. Dengan menjalankan din, kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan akan ter`ih di dunia dan di akhirat. Seseorang dikatakan mutadayyin (beragama dengan baik), jika dia dapat melengkapi dirinya dengan tiga dimensi agama tersebut secara sempurna, sehingga dia pasti berbahagia.
B. Hakikat Manusia Adalah Beragama
“mengapa kita beragama?”. Manusia adalah satu makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhluk-makhluk lainnya, kerana manusia diciptakan dari unsur yang berbeda, yaitu unsur haiwani / materi dan unsur ruhani / immateri. Memang, dari unsur haiwani manusia tidak lebih dari binatang, bahkan lebih lemah darinya.
Sehubungan ini Allah swt berfirman, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (An-Nisa: 28). “Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.” (Rum: 54). Kerana itu, sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya, di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata pemberian dari Allah, bukan hasil usahanya).
Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakupi hati dan akal, keduanya bukan materi). Dengan akalnya, manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. Kerana unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman ayat 20). Dalam salah satu ayat Al-Qur’an ditegaskan, “Sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam, kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut, serta kami anugerahi mereka rezeki. Dan sungguh kami utamakan mereka di atas kebanyakan makhluk Kami lainnya.” (Al-Isra: 70).
Termasuk ke dalam unsur ruhani adalah fitrah. Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. Agama adalah bagian dari fitrah manusia.
Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi), Syahid Murtadha Muthahhari menyebutkan adanya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia, yaitu mencari kebenaran (haqiqat), condong kepada kebaikan, condong kepada keindahan, berkarya (kreativiti) dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). Sedangkan menurut Syeikh Ja’far Subhani, terdapat empat macam kecenderungan pada manusia, dengan tanpa memasukan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab al-Ilahiyyat, juz 1).
Kecenderungan beragama merupakan bahagian dari fitrah manusia. Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk cenderung beragama,dalam erti manusia mencintai kesempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah pemilik kesempurnaan tersebut.
Dengan demikian, manusia tidak harus dipaksa beragama, namun cukup kembali pada dirinya untuk menyambut suara dan panggilan hatinya, bahwa ada sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya.
Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri, namun untuk menentukan siapa atau apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bahagian dari fitrah, melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. Jadi jawaban dari pertanyaan mengapa manusia harus beragama, adalah bahawa beragama merupakan fitrah manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus, sebagai fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan.” (Rum: 30).
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil diskusi yang telah kami uraiakan tentang “Fitrah beragama pada manusia” dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Agama Menurut arti bahasa diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Sedang menurut istilah agama adalah sebagai sekumpulan keyakinan, hukum dan norma yang akan membawa seseorang kepada kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
2. Manusia adalah satu makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhluk-makhluk lainnya.
3. Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna.
4. Agama adalah bagian dari fitrah manusia.
5. Manusia tidak harus dipaksa beragama, namun cukup kembali pada dirinya untuk menyambut suara dan panggilan hatinya, bahwa ada sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya
B. SARAN
Untuk memenuhi pembahasan dan kesimpulan diatas, penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi mahasiswa/mahasiswi untuk menambah pengetahuan pada materi ini setiap anak sehendaknya mempunyai buku atau banyak membaca tentang bab ini.
2. Untuk menambah wawasan maka dilakukan diskusi antar teman bila ada kekurangan minta bantuan dosen untuk menambahkannya.
DAFTAR PUSTAKA
No comments:
Post a Comment