Sejak kecil saya bercita-cita menjadi guru. Bagi saya guru
itu seorang contoh yang baik, guru itu orang mulia, semua orang akan
menghormati bila ada yang mengaku berprofesi sebagai guru. Seiring berjalannya
waktu karena saya diletakkan dari keluarga yang tidak begitu mampu, cita-cita
saya berubah. Saya ingin jadi pegawai kantor, semakin dewasa saya ingin menjadi
artis(penyanyi) lantaran keseringan nonton M-TV. Namun semakin dewasa menjadi guru adalah
prioritas bagi saya.
Niat menjadi guru, ternyata merubah saya dari pekerja keras
untuk mencari uang sebagai pemenuh kebutuhan menjadi bekerja keras untuk bisa
bermanfaat bagi orang lain. Merubah saya yang senang dengan keteneran,
keglamoran dan intertain menjadi semakin mencintainya, bukan untuk saya sendiri
tapi untuk bisa dicontoh sebagai prestasi, “guru-digugu dan ditiru”.
Disuatu ketika teman saya pada semester 7 berbincang-bincang
tentang kemungkinan yang terjadi setelah kami lulus dari STKIP PGRI di salah
satu kota. Dia mengatakan lebih baik jadi mandor atau jadi pedagang, kemudian
saya tertarik untuk bertanya, “kenapa kook begitu?”. Dia mengatakan jadi guru
itu ibarat jadi babu. Dengan pekerjaan yang berat(amanat yang di emban ), harus
begini harus begitu, tak sebanding dengan gaji yang diperoleh. Kalau kita jadi
wirausaha kita bisa mengatur kita mau dapat uang berapa, dan tentunya
pekerjannya berbanding lurus dengan penghasilannya. Saat itu saya telah menjadi
pengajar di sekolah tingkat dasar. Tentu saya geram, saya pendidik dengan
iklas, walaupun memang tidak saya pungkiri gaji memang sangat penting untuk
kesejahteraan, saya mengatakan pada teman saya waktu itu,
pekerjaan mendidik itu bukan semata mencari uang, seperti para anggota dewan
yang buang uang untuk kampanye dengan tujuan arahnya menikmati uang rakyat
untuk dirinya sendiri, setelah itu bersembunyi dibalik uang dan ketakuatan akan
rahasia boroknya, kami bukan seperti itu.
Setelah diam dan berdiskusi didalam pikiran, saya mengatakan
“mendidik itu bukan membidik”.
No comments:
Post a Comment