Siapa sih yang ingin dilahirkan dikeluarga yang agamis,
keluarga yang disiplin, tidak miskin namun juga tidak terlalu kaya, setiap hari
bekerja disawah yang luas, hasilnya pun selalu baik, menjadi keluarga yang
terpandang dan terpelajar. Dengan tanpa basa-basi saya akan mengatakan tidak
ingin. Bukan tanpa alasan aku mengatakan ini, aku lahir dikeluarga itu dan aku
tak sanggup.
Namnya nayla, anak dari keluarga biasa yang sederhana. Dia
adalah cinta pertamaku, rumahnya di desa sebelah desaku, aku tak tau persis
kenapa aku sampai jatuh cinta kepadanya, yang jelas diaterlihat anggun,
terlihat sederhana dimataku, tutur lembut katanya, senyum manisnya pasti
memikat semua pria. Namun keluargakulah yang membuat kami berpisah, dan itu
adalah hal yang membuat aku merana seperti ini.
“apa kamu tidak salah pilih, dia itu dari keluarga yang
biasa-biasa saja, agamnya juga biasa-biasa saja, apa yang akan kau dapat
darinya, pikir nang”
“aku sudah memutuskan pak, tidak ada yang lebih mulia di
mata Alloh dari pada iman dan taqwanya, hal itu tentu bapak tau kan”, kalimatku
memuncak saat itu, aku sudah menjadi subjek kemarahan sedari 30 menit tadi,
bapak ibu kedua abangku dan adik perempuanku menjadi saksi itu, dan aku tak
iingin kalah.
“nanang... kamu itu terpelajar, kamu sarjana sekarang adalah
salah satu dosen hebat, tidak kah kamu malu mempunyai istri dia, pikir pakek
nalar dong bapak saja yang lulusan SMA bisa main logika”
“iya nang coba kamu pikir lagi, masih ada bnyak waktu kamu
buat berfikir”, ibuku berkata dalam lembut tuturnya yang malah membuat aku
meradang.
“ibu kenapa panjengan tidak membelaku bu... apa salahnya
dia??”
“ dek mas kan hanya kuli bangunan tidak pandai
sepertimu, kalau mungkin waktu bisa terulang
andaikan dia yang menikah sama aku dulu mungkin sekufu dek, tapi kalau dengan
kamu tentu jauh lah adek” abang tertuanku juga ternyata ikut menghakimiku.
“ok...baik, dia adalah gadis buta, setahun lalu dia buta
karena kecelakaan, ingat kecelakaan itupun aku juga yang menyebabkan, aku
mencintainya jauh sebelum itu, dan dulu tidak ada masalah, namun sekarang
seperti apa sikap kalian...”
“hai bocah ini semua demi kamu...”
“tau apa bapak soal aku...”
“dik denger bapak bicara dulu, jaga kesopanan mu ngomong
sama orang tua” abangku yang kedua yang menjadi ustat di salah satu pondok
sekaligus sekolah islam, yang sedari tadi tenang akhirnya angkat bicara. Aku
tersedut, aku tersisish, aku hanya bisa merunduk menghadapi serangan
keluargaku.
“dia salah apa bang... kami saling cinta, mungkin dia memang
buta, mungkin keluarganya juga kurang berada, keluarganya mungkin juga kurang
berada, namun dia satu sekolah di SMS dulu, dia adalah sisiwa terpandai dan
terajin serta tersoleh yang pernah akau kenal, dia buta karena kecelakaan,
itupun karna aku” akupun mulai menangis, tak ada yang berkata, bapak
membelakangiku, kedua abangku hanya bergeser sedikit karena tegang, adikku
calon dokter yang teduh mendekatiku dan mengelusku, sepertinya hanya dia yang
tau dukaku, ibu bingung dan hanya bisa menangis.
“aku akan pergi saja, mungkin ini bisa menyelesaikan
masalah, aku akan tetap menikahinya, dan kalian...” aku melangkah pergi
mengendarai mtor matik yang baru saja aku beli, dengan membawa sedikit bekal.
Semua lengang kala itu, sembari meninggalkan rumah baru aku mendengar bapak
berkoor “pergi saja kau jangan kembali, hidup sana sama orang buta”. Aku
menangis mendengar itu namun akau tau apa yang akau lakukan.
Bulan terus berlalu, menjadi dosen adalah mimpiku sejak
dulu. Dan mimpi itu telah kudapatkan, bersama nayla, wanitaku yang sangat aku
sayangi, kami hidup di rumah sederhana, rumah yang ku dapat dengan hasil jirih
payahku. Setiap hari aku makan disana, tidur disana bersama istriku, nayla yang
cantik. Hanya dia yang bisa menghiburku, hanya dia obat lelahku, yang selalu mendampingiku,
memasakkan aku, membangunkan aku, menemani sholatku. Tak pernah aku meminta hal
yang berat untuknya, namun dengan penuh kesadaraan dia selalu ada untukku,
untuk membahagiakanku. Naylaku, nayla cintaku.
Dan dirimu damaikan hatiku
Dan artimu tak akan berakhir
Kini anakku sudah besar, dia manis seperti ibunya, dia kuat
juga seperti ibunya. Setiap hari dia makan tiga kali, setiap hari dia mandi
tiga kali, setiap hari dia bertemu aku tiga kali, setiap hari dia dikurung
dalam kamar yang indah, seperti sangkar emas. Dia anakku dia terkurung dalam
rumahku. Kakeknya tidak memperbolehkanya mengikutiku untuk sekedar mencium
tangan neneknya ntuk sekedar meminjam teleskop tantenya yang telah menjadi
dokter, untuk sekedar belajar mengaji dengan pamannya, untuk sekedar membangun jembatan
bersama paman yang satunya.
Disaat sujudku aku selalu berdoa untuk nayla cintaku, nayla
yang kini juga menjadi anakku, yang malang, yang tersisihkan, karena congkaknya
dunia, tiga bulan sudah dia merana dalam sangkar emas karyaku, dia terlihat
kurus, dia terlihat lemah, namun dia tetap paling manis senyumnya, dia tetap
paling aku cintai, hingga sampai senyum manisnya tak dapat lagi kunikmati,
hingga tak dapat lagi kupeluk dalam rinduku, tak lagi ku rasakan jemarinya
sekarang, dia telah tiada bersama nayla yang dulu pernah mengisi relung hatiku.
Keluargaku kini tak ada lagi yang tersisihkan. Aku hidup
sendiri seorang diri. Ibuku telah lama meninggal. Ayahku telah lama mati. Telah
lama kuhapus dalam fikiran ku, abangku berkutat dengan aktifitasnya mencari
nafkahkeluarga mereka yang harmonis, tak seperti keluargaku yang berantakan,
karena korban keinginan orang tua. Mungkin juga karena aku sendiri yang tidak
bisa merubah pandanganku sendiri. Seandainya sedari awal aku menurutkata keluarga
mugkin tidak seperti ini keadaanya. Namun aku juga hanya manusia yang mempunyai
keinginan dan hasrat untuk merdeka. Jadi, dari kasusuku tidak ada yang salah,
semua paling benar.
Biarkan kesendirian menemaniku, menghiasi sepiku, biarkan
kuberjalan dijalanan, menikmati kebahagian lalu lalang kebahagian. Biarkan aku
hanya menikmati, biarkan tulisanku ini menjadi kenanangan bagikku, bagi nayla
kecilku dan naila cintaku. Bila nanti aku dilahirkan kembali semoga aku
mendapat keluarga yang bisa mengerti aku, keluarga yang patut untuk aku
banggakan. Dan bila aku menjadi orang tua semoga aku manjadi orang tua yang
pengertian dan bisa dibanggakan anakku.
Seelamat tinggal dunia, selamaat tinggal nayla yang malang.

No comments:
Post a Comment