Berbagi Itu Indah

Berbagi Itu Indah

Saturday, April 13, 2013

Nayla yang malang



Siapa sih yang ingin dilahirkan dikeluarga yang agamis, keluarga yang disiplin, tidak miskin namun juga tidak terlalu kaya, setiap hari bekerja disawah yang luas, hasilnya pun selalu baik, menjadi keluarga yang terpandang dan terpelajar. Dengan tanpa basa-basi saya akan mengatakan tidak ingin. Bukan tanpa alasan aku mengatakan ini, aku lahir dikeluarga itu dan aku tak sanggup.
Namnya nayla, anak dari keluarga biasa yang sederhana. Dia adalah cinta pertamaku, rumahnya di desa sebelah desaku, aku tak tau persis kenapa aku sampai jatuh cinta kepadanya, yang jelas diaterlihat anggun, terlihat sederhana dimataku, tutur lembut katanya, senyum manisnya pasti memikat semua pria. Namun keluargakulah yang membuat kami berpisah, dan itu adalah hal yang membuat aku merana seperti ini.
“apa kamu tidak salah pilih, dia itu dari keluarga yang biasa-biasa saja, agamnya juga biasa-biasa saja, apa yang akan kau dapat darinya, pikir nang”
“aku sudah memutuskan pak, tidak ada yang lebih mulia di mata Alloh dari pada iman dan taqwanya, hal itu tentu bapak tau kan”, kalimatku memuncak saat itu, aku sudah menjadi subjek kemarahan sedari 30 menit tadi, bapak ibu kedua abangku dan adik perempuanku menjadi saksi itu, dan aku tak iingin kalah.
“nanang... kamu itu terpelajar, kamu sarjana sekarang adalah salah satu dosen hebat, tidak kah kamu malu mempunyai istri dia, pikir pakek nalar dong bapak saja yang lulusan SMA bisa main logika”
“iya nang coba kamu pikir lagi, masih ada bnyak waktu kamu buat berfikir”, ibuku berkata dalam lembut tuturnya yang malah membuat aku meradang.
“ibu kenapa panjengan tidak membelaku bu... apa salahnya dia??”
“ dek mas kan hanya kuli bangunan tidak pandai sepertimu,  kalau mungkin waktu bisa terulang andaikan dia yang menikah sama aku dulu mungkin sekufu dek, tapi kalau dengan kamu tentu jauh lah adek” abang tertuanku juga ternyata ikut menghakimiku.
“ok...baik, dia adalah gadis buta, setahun lalu dia buta karena kecelakaan, ingat kecelakaan itupun aku juga yang menyebabkan, aku mencintainya jauh sebelum itu, dan dulu tidak ada masalah, namun sekarang seperti apa sikap kalian...”
“hai bocah ini semua demi kamu...”
“tau apa bapak soal aku...”
“dik denger bapak bicara dulu, jaga kesopanan mu ngomong sama orang tua” abangku yang kedua yang menjadi ustat di salah satu pondok sekaligus sekolah islam, yang sedari tadi tenang akhirnya angkat bicara. Aku tersedut, aku tersisish, aku hanya bisa merunduk menghadapi serangan keluargaku.
“dia salah apa bang... kami saling cinta, mungkin dia memang buta, mungkin keluarganya juga kurang berada, keluarganya mungkin juga kurang berada, namun dia satu sekolah di SMS dulu, dia adalah sisiwa terpandai dan terajin serta tersoleh yang pernah akau kenal, dia buta karena kecelakaan, itupun karna aku” akupun mulai menangis, tak ada yang berkata, bapak membelakangiku, kedua abangku hanya bergeser sedikit karena tegang, adikku calon dokter yang teduh mendekatiku dan mengelusku, sepertinya hanya dia yang tau dukaku, ibu bingung dan hanya bisa menangis.
“aku akan pergi saja, mungkin ini bisa menyelesaikan masalah, aku akan tetap menikahinya, dan kalian...” aku melangkah pergi mengendarai mtor matik yang baru saja aku beli, dengan membawa sedikit bekal. Semua lengang kala itu, sembari meninggalkan rumah baru aku mendengar bapak berkoor “pergi saja kau jangan kembali, hidup sana sama orang buta”. Aku menangis mendengar itu namun akau tau apa yang akau lakukan.
Bulan terus berlalu, menjadi dosen adalah mimpiku sejak dulu. Dan mimpi itu telah kudapatkan, bersama nayla, wanitaku yang sangat aku sayangi, kami hidup di rumah sederhana, rumah yang ku dapat dengan hasil jirih payahku. Setiap hari aku makan disana, tidur disana bersama istriku, nayla yang cantik. Hanya dia yang bisa menghiburku, hanya dia obat lelahku, yang selalu mendampingiku, memasakkan aku, membangunkan aku, menemani sholatku. Tak pernah aku meminta hal yang berat untuknya, namun dengan penuh kesadaraan dia selalu ada untukku, untuk membahagiakanku. Naylaku, nayla cintaku.
Dan dirimu damaikan hatiku
Dan artimu tak akan berakhir
Kini anakku sudah besar, dia manis seperti ibunya, dia kuat juga seperti ibunya. Setiap hari dia makan tiga kali, setiap hari dia mandi tiga kali, setiap hari dia bertemu aku tiga kali, setiap hari dia dikurung dalam kamar yang indah, seperti sangkar emas. Dia anakku dia terkurung dalam rumahku. Kakeknya tidak memperbolehkanya mengikutiku untuk sekedar mencium tangan neneknya ntuk sekedar meminjam teleskop tantenya yang telah menjadi dokter, untuk sekedar belajar mengaji dengan pamannya, untuk sekedar membangun jembatan bersama paman yang satunya.
Disaat sujudku aku selalu berdoa untuk nayla cintaku, nayla yang kini juga menjadi anakku, yang malang, yang tersisihkan, karena congkaknya dunia, tiga bulan sudah dia merana dalam sangkar emas karyaku, dia terlihat kurus, dia terlihat lemah, namun dia tetap paling manis senyumnya, dia tetap paling aku cintai, hingga sampai senyum manisnya tak dapat lagi kunikmati, hingga tak dapat lagi kupeluk dalam rinduku, tak lagi ku rasakan jemarinya sekarang, dia telah tiada bersama nayla yang dulu pernah mengisi relung hatiku.
Keluargaku kini tak ada lagi yang tersisihkan. Aku hidup sendiri seorang diri. Ibuku telah lama meninggal. Ayahku telah lama mati. Telah lama kuhapus dalam fikiran ku, abangku berkutat dengan aktifitasnya mencari nafkahkeluarga mereka yang harmonis, tak seperti keluargaku yang berantakan, karena korban keinginan orang tua. Mungkin juga karena aku sendiri yang tidak bisa merubah pandanganku sendiri. Seandainya sedari awal aku menurutkata keluarga mugkin tidak seperti ini keadaanya. Namun aku juga hanya manusia yang mempunyai keinginan dan hasrat untuk merdeka. Jadi, dari kasusuku tidak ada yang salah, semua paling benar.
Biarkan kesendirian menemaniku, menghiasi sepiku, biarkan kuberjalan dijalanan, menikmati kebahagian lalu lalang kebahagian. Biarkan aku hanya menikmati, biarkan tulisanku ini menjadi kenanangan bagikku, bagi nayla kecilku dan naila cintaku. Bila nanti aku dilahirkan kembali semoga aku mendapat keluarga yang bisa mengerti aku, keluarga yang patut untuk aku banggakan. Dan bila aku menjadi orang tua semoga aku manjadi orang tua yang pengertian dan bisa dibanggakan anakku.
Seelamat tinggal dunia, selamaat tinggal nayla yang malang.

No comments:

Post a Comment