Sebagai mantan pelajar,saya tentu tidak heran bila ada
pendapat yang mengatakan bahwa pelajaran matematika dianggap sebagai pelajaran
yang sulit. Kebanyakan bahkan megangap momok terhadap pelajaran ini. Pada waktu
dulu saya menjadi pelajar (siswa) belum pernah terpikirkan sama sekali kenapa
pelajaran matematika itu dianggap sulit, setelah menekuni ilmu pendidikan
diperkuliahan akhirnya saya sadar pasti ada sesuatu yang menjadi penyebabnya.
Setelah melakukan beberapa pengamatan akhirnya saya mendapat
jawaban yang logis. Salah satu penyebab sulitnya ilmu eksak adalah perbedaan
daya tangkap otak masing-masing siswa. Kita ketahui bahwa otak manusia dibagi
menjadi dua bagian, yakni otak kanan dan otak kiri. Masing masing otak
mempunyai tugas berbeda. Otak kanan berfungsi untuk menangkap hal yang berhubungn
dengan warna, strategi, keatifitas, emosi, musik dan suasana. Sedangkan otak
kiri berfungsi untuk menangkap informasi berupa angka, urutan, analisis,
sruktur, bahasa, dan hitungan. Dari perbedaan itu saja sudah bisa menjelaskan
bahwa siswa yang kesulitan terhadap pelajaran matematika adalah mereka yang
dominan menggunaan otak kanan.
Meski demikian tentu ada beberapa hal lain yang menyebabkan
matematika dianggap sulit. Diantaranya adalah metode pembelajaran yang tidak
tepat. Guru cenderung menggunakan metode yang membosankan dan tidak
berfariatif. Apalagi bila guru yang mengajar terkenal galak,maka sudah bisa
dipastikan matematika menjelma menjadi pelajaran yang sangat dibenci dan tidak
harapkan oleh siswa.
Dari penjelasan diatas tentu bisa disimpulkan bahwa ada dua
hal yang menyebabkan matematika dianggap sulit, yang pertama memang dari dalam
diri siswa sendiri, terutama mengenai penerimaan materi dikarenakan dominasi
salah satu otak. Hal ini sebenaranya bisa diatasi dengan melakukan pelatihan
agar kedua otak bisa bekerja dengan seimbang. Namun hal itu bukanlah hal yang
bisa dipastikan, pertimbanganya adalah kecerdasan atau kemapuan otak itu
dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya adalah lingkungan keseharian dan genetika.
Kedua dari faktor eksternal yakni dari guru dan cara guru
menerangkan materi matematika. Cara mengetasi perasalahan ini ya tentu saja
dengan merubah metode menjadi lebih berfariatif dan membuang jauh persepsi
bahwa setiap guru matematika itu galak.
Sebenarnya tentu masih banyak hal yang perlu dibahas dalam
artikel sederhana ini. Intinya dari apa yang saya tulis adalah bahwa perlu
adanya kesadaran dari diri pengajar sebagai pemegang kendali dalam proses
pembelajaran anak. Sebagai guru tentu harus lebih jeli lagi menghadapi
permasalahan siswa terutama mengenai pemahaman siswa, perlunya fariasi dalam
penyampaian materi dan aplikikasinya disesuaikan dengan kemampuan siswanya. Matematika
itu bukan pelajaran sulit namun akan menjadi sulit bila siswa tidak bisa
menangkap penjelasan dari gurunya.
No comments:
Post a Comment