Egois mempunyai makna mementingkan diri sendiri. Menerut
pendapat saya tidak ada salahnya orang bersifat egois. Egois dalam kadar
tertentu memang di butuhkan sebagai upaya mempertahankan fitrah individu
manusia. Namun dalam takaran social sifat egois seharusnya bisa diminimalisir.
Sifat egois tidak selalu memikirkan kepentingan diri
sendiri. Kadang sifat egois juga didasari rasa kekelompokan, kekeluargaan, dan
kesamaan. Sama dengan naluri individual, sifat egois di kelompok social
tertentu juga sebaiknya tidak terlalu dominan. Kalau hal itu terjadi yang ada
adalah sifat ingin menguasai.
Sifat egois akan menjadi masalah yang membahayakan bila
sifat ini bersandingan dengan sifat amarah. Banyak kasus yang mengisahkan sifat
egois menjadi sifat anarkis. Misalnya tawuran antar pelajar yang diakibatkan
oleh ego masing-masing kelompok pelajar yang sama-sama besar ego.
Seoang pimpinan yang egois akan suka memerintah bawahanya
tanpa memikirkan rasa kemanusian. Guru yang egois akan memberatkan siswa dengan
aturan yang untolelir. Polisi yang egois akan kehilangan rasa kemanusian saat
berhadapan dengan masa yang brutal. Pekerja yang egois akan bekerja
professional namun kaku dan tak masuk akal. Pelajar yang egois akan marah-marah
saat tugas dinilai memberatkan, begitu juga dengan bawahan. Tentunya masih
banyak contoh lain tentang dampak buruk egois.
Sifat egois tidak akan berdampak buruk bila di imbangi
dengan pengendalian emosi. Berfikir bahwa akan selalu ada jalan keluar
merupakan cara yang ampuh untuk mengurangi efek buruk egois.
No comments:
Post a Comment