“Kau membuat ku berantakan”
“Kau membuatku tak karuan”
Itulah bait pertama lagunya D’masiv. Yang membuat aku
berantakan bukanlah cinta, namun “Batuk”. Penyakit sepal ini tidak
bisa hanya dipandang sebelah mata. Penyakit ini telah menggrogoti hariku yang
indah, membuat aku berfikir berkali-kali hanya untuk sekedar makan dan keluar
beraktifitas. Mengutip sebuah lagu juga tentang percintaan. Tapi ini kasusnya Perbatukan, bahwa “Batuk, kau telah mengalihkan
duniaku”.
Kisah tentang batuk aku mulai dari hari Rabu 16 November
2016. Entah sebabnya apa aku sudah lupa, yang jelas bangun tidur badanku
rasanya meriang, sedikit mulai mengalir lender dari hidungku, bahasa daerahku pilek bahasa kerenya flu. Meski begitu aku masih saja
beraktifitas, walaupun kayaknya aku kurang fit.
“Yang penting itu masih bisa berjalan,
ngapain juga gak melakukan rutunitas seperti biasa”.jawabku pada
orang-orang yang menyuruhku istrahat. Keesekan harinya Kamis 17 November 2016,
Batuk mulai menyerang dengan membabibuta.
Aku adalah salah satu manusia yang anti obat dan dokter,
paling tidak untuk penyakit-penyakit ringan. “Paling juga sembuh sendiri”. Fikirku. Namun saat menginjak hari Jumat
18 November aku kalah. Prinsipku goyah. Akhirnya aku bergegas membeli obat flu
dan batuk. Untuk mereknya saya agak bisa sebutkan, karena berbagai hal. Namun keesekan
harinya tetap tidak terjadi perubahan. Dua hari aku rutin minum obat, namun
tetep tidak ada perubahan. Saatnya aku melakukan perubahan rencana.
Gagal dengan obat dipasaran aku beralih di obat apotik,
prinsipnya tetap sama saya malas ketemu dokter. Jadi beli obat diapotik adalh
salah satu alternatife. Bermodal bertanya
kepada penjaga apotik akhirnya aku pulang dengan obat batuk resep dari mbak
apotik. Aku minum obat dari apotik dengan suka cita. Tiga kali sehari setelah
makan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah tidak terjadi apa-apa. Aku tetap
batuk.. uhuk…uhuk…
Hari selanjutnya selasa 22 November 2016, aku mencoba
pengobatan tradisional. Bermodal jeruk nipis dan kecap aku teguk dengan senang
hati. Menjelang tidur yang ada difikaranku adalah bahwa besok sudah tidak ada
lagi batuk. Aku mulai mematikan lampu untuk tidur, bukan malah tidur, semalaman
aku batuk terus. Kira-kira setiap 5 menit sekali rasa gatal di leher sangat
mengganggu dan batuk pun tidak terelakkan. Malam itu aku begadang dengan batuk
menemani, terimakasih jeruk nipis dan kecap, kau tidak banyak membantu, uhuk…
uhuk…
Rasa ini sungguh menyiksaku, batuk yang teramat menggu tetap
aku gunakan untuk aktifitas, mendidik generasi bangsa di sekolah, kuliah, dan juga
aktifitas lainya. Batukku semakin parah, prinsipku kembali goyah, malam kamis aku putuskan untuk berkunjung ke
dokter langganan Bapakku. Nasib ternyata tidak berpihak, tempat prakteknya
gelap, sudah jelas tidak ada orang didalamnya, walhasil aku pulang dengan
membawa batuk kembali. Batuk oh batuk….
Jumat malam keesokanya sebelum waktu Maghrip tiba Bapakku mengeluh pusing. Aku pun positif thingking aja mungkin beliau kelelahan. Namun sehabis Sholat
Maghrip beliau tetap saja mengeluh
pusing, diagnosaku kemungkinan beliau kumat darah tingginya. Dengan sigap dan
siap aku memakai jaket tebal dengan batuk yang membara di sepanjang jalan aku
mengantar beliau ke dokter yang hari sebelumya ku datangi, namun tetap kosong,
satu-satunya lokasi pengobatan terdekat adalah Unit Gawat Darurat di puskesmas
yang ada di kotaku.
Setelah proses Tanya-tanya dan pemberian obat pertolongan pertama
pada bapakku, akhirnya sampai juga di sesi pembayaran. Kesempatan ini tidak aku
buang, aku pun merajuk meminta obat batuk kepada petugas UGD. Pulang dari sana
saya membawa dua kantong kresek, satunya obat bapakku satunya obat untuk si-batuk
yang selalu setia menemaniku. “IngsAlloh
besok sembuh”, hal itulah itulah yang ada di benakku.
Keesokan harinya begitu lebih baik, batuk sudah mendingan,
namun karena di UGD obat hanya untuk sekali malam, jadinya malam obat tidak
masuk kembali di dalam tubuhku. Sempat ada niatan menbus obat yang seperti dari
UGD namun hujan menghalangi niatku. Dan benar saja besonya batuk kembali
menyerang. Namun di akhir malam, mamakku yang tercinta membuatkan aku minuman
jahe anget, “sayang banget dah sama
beliau kalau gini jadinya”. Malam itu aku tidur dengan dada terasa hangat
karena wedang jahe mamak.
Hari Senin yang pagi ini terasa cerah. Wedang jahe buatan
mamak ternyata kasiatnya tidak lama karena hanya menenangkan saat tidur. Hari-hari
pun aku lalui dengan batuk, batuk dan batuk. Beginilah kalau batuk sudah setia.
Nempel terus kayak prangko. Namun saya tidak menyerah, hari ini egoku ku terlemahkan.
Mungkin konsultasi dengan dokter memang hal yang perlu untuk dilakukan. Malamnya
aku berniat dan bertekat bulat untuk periksa ke dokter.
Namanya dokter Rifki, dokter muda ini sangat tenang perawakanya
(setiap dokter pasti berperawakan tenang),
ayah tiga anak ini buka praktek sudah dua tahun. Dan ini kali pertamanya aku
periksa ke beliau. Setelah Tanya-tanya tibalah saatnya dokter muda ini
mendiaknosa. Penyakitku dinamakan batuk berdahak, kenapa bisa sangat lama
karena dahaknya membandel, dahak yang seharusnya keluar tidak mau keluar. Itulah
yang menyebabkan ketika batuk perutku sakit, hal itu karena tenaga yang
dibutuhkan untuk mengeluarkan dahak sangat besar, namun dahak ogah juga keluar.
Di akhir pesan aku disuruh minum obat secara teratur, istirahat yang cukup, dilarang
ngopi, dilarang keluar malam. Padahal itu semua pekerjaan yang selalu aku
ulangi. Entahlah semoga saja aku bisa sembuh dengan cepat.
Hikmahnya, mungkin memang aku harus istirahat total, mungkin
juga terlalu banyak waktu yang kugunakan untuk bekerja sehingga lupa akan-Nya.
Alloh yang maha segalanya, yang hanya karena kehendak-Nya sakitku ini bisa
disembuhkan. Hari ini selasa malam,
dengan batuk yang masih tersisa aku istrahat
dan mencoba mengisi waktu ini dengan mengetik cerita ini. Semoga saja di musim
yang bercuaca ekstrim ini semua yang sakitnya sama denganku bisa tetap sabar
dan segera disembuhkan atas kehendak Alloh dengan lantaran apapun itu.
Amin.
No comments:
Post a Comment